Amplop #2

Kalau sedang ke Jakarta, saya pasti berusaha gak bengong sendirian setelah jam kantor. Biasanya nelponin teman-an ngajak kongkow. Tapi sering juga gak ada temen yang nganggur, maksudnya punya waktu diajak jalan. Biasa-lah alasan orang Jakarta khan selalu sibuk dan terburu-buru. Inilah enaknya jadi pegawe yang home-basenya bukan di Jakarta, jadi ke kantor gak kena macet karena tinggal jalan kaki dari hotel. Atau datang agak siangan, toh meeting biasanya juga gak pernah pagi2 banget. 

Suatu sore di awal tahun 2000-an, gak ada teman yang lowong. Pas mau balik ke hotel eh ada supplier nelpon. Ketika tahu saya sedang di Jakarta dia langsung ajak ketemuan. Lumayan ada teman ngobrol sambil ngupi. Saya lupa alasannya apa, waktu itu kami gak jadi ngopi di plaza dekat kantor tapi naik mobil ke arah Jakarta Pusat. Waduh, macetnya minta ampun. Sebuah pilihan yang salah! 

Setelah muter-muter menghindari macet (sebuah usaha yang sia-sia di sore hari waktu jam pulang kantor di Jakarta), akhirnya saya nyerah minta berhenti saja di Gramedia atau Gunung Agung terdekat. Saya lebih seneng ngobrol dan ngopi di pinggir jalan dan dekat dengan toko buku daripada ruwet kena macet. Akhirnya kami masuk parkiran toko buku besar di daerah dekat Monumen Proklamasi.  Entah kenapa si supplier ternyata gak bisa nemenin dan bilang dia panggilan mendadak dari istrinya di rumah.  Ya udah, saya turun sendiri.

Belum juga satu kaki menginjak tanah, tiba2 si supplier kasih amplop putih polos panjang yang lumayan tebal. “Apa ini, pak?”, tanya saya kaget. “Ya uang-lah, itu buat Bapak”, katanya sambil senyum penuh arti. Saat itu sudah separoh badan di luar mobil, “Ma’af pak, saya tidak boleh menerimanya”.  Amplop saya taruh di dashboard. Senyumnya hilang berganti wajah kebingungan (sebenarnya saya gak tahu pasti itu wajah bingung, kaget, sedih, jengkel atau apa. Saya khan bukan ahli membaca wajah orang di sore hari di pelataran parkir dengan mesin mobil masih menyala).

 Sepertinya dia mau ngomong banyak, tetapi suara klakson mobil di belakang kami sudah mencericit. Tidak lupa ngucapin terima kasih karena telah ditemani ngobrol (di sepanjang jalan yang macet) saya tutup pintu mobil dan bergegas masuk ke toko buku. Sore sampai malam saya habiskan waktu saya melihat-lihat isi toko buku sendirian.

Saya pulang ke hotel naik taksi malamnya dan pagi2 sekali harus ke bandara untuk meninggalkan Jakarta dengan pesawat pertama. Seperti biasa dari Sepinggan langsung ke pabrik. Sorenya si supplier nelpon. Katanya dia sudah ceritakan kejadian tadi malam dengan boss dia, dan atas nama manajemen dia minta ma’af.

Mereka adalah salah satu supplier dengan nilai bisnis ratusan juta USD setiap bulan dengan kami, dan sayalah yang bertanggung jawab nego sampai dolar terkecil. Hanya satu hal yang kadang membuat saya “sedikit menyesal”, kenapa saya tidak sempat membuka amplop dan mengintip isinya. Setidaknya saya bisa tahu berapa “nilai posisi” saya di tahun itu. Tetapi dilain pihak saya bersyukur, mungkin itu sudah diatur oleh Tuhan,  siapa tahu kalau saya sempat menghitung … bisa jadi gak tahan juga …

Amplop #1

Cerita soal amplop ini memang diinspirasi oleh semakin dekatnya Imlek, tetapi tidak berhubungan sama sekali dengan Tahun Baru China (tapi kalau mau dipaksain dihubung-hubungkan juga gak apa-apa).

Saya diundang oleh rekanan dalam suasana menjelang Tahun Baru Masehi tahun dua ribu sekian. Dia seorang pengusaha kapal yang memiliki galangan cukup besar dan deretan kapal (yang direntalkan) bisa ber-mile-mile panjangnya.  Siang yang menyengat menjadi tak terasa ketika ngobrol di dalam ruang tamu sang juragan kapal nan sejuk dan bernuansa warna merah dan coklat tua. Setelah selesai membicarakan perpanjangan kontrak kapal yang telah kami sewa bertahun-tahun, suda saatnya saya mengakhiri pertemuan dan segera pamit. 

Si Juragan Kapal menahan saya sebentar dan berjalan ke almari oak besar, menarik sesuatu berwarna merah. Ternyata sebuah angpao (amplop warna merah) besar. Dia berikan amplop itu kepada saya, “Ini pak, sekedar ucapan terima kasih”.

Saya yang sudah terlanjur berdiri, terpaksa duduk lagi setelah menerima amplop itu. Dengan tangan sedikit gemetar saya minta ijin membukanya. Nampak kartu season greeting yang cantik ditemani oleh segepok uang pecahan seratus ribuan plastik yang masih baru. Ya itu uang baru, karena Bank Indonesia baru menerbitkan pertama kali pecahan seratus ribu. Dan, cilakak-nya lagi, itulah pertama kali saya menyentuh uang pecahan seratus ribu yang sebelumnya hanya saya lihat di pengumunan di koran.

Setelah menarik nafas panjang saya keluarkan semua isi amplop. Saya taruh semua uang tadi di meja dan saya kembalikan kartu ucapan ke dalam amplop. Percakapan selanjutnya adalah klise bahwa saya tidak bisa menerima uang tanda terima kasih dan berharap dia tidak mencoba melakukannya lagi baik kepada saya dan juga anak buah saya. Hubungan kerja yang saling mengungtungkan itu tidak perlu dirusak dengan segala macam pemberian.

Saya pamit sambil membawa amplop merah yang tentu akan sangat tidak sopan kalau saya juga mengembalikan kartu ucapan. Dan inilah cilaka dua belas lagi, setelah melewati pintu ruangan saya baru sadar hanya membawa blocknote dan ukuran amplop seperempat lebih besar darinya. Dari ruangan sampai tempat parkir amplop merah itu menyembul dengan sangat gamblang dari sela2 block note saya.

Hanya saya, juragan kapal dan Allah saja yang tahu kalau amplop merah tersebut sudah tidak berisi uang lagi.

Sepasang Arloji

Beberapa tahun lalu saya mendapatkan sebuah bingkisan berisi sepasang fashioned watches. Pengirimnya adalah sebuah perusahaan Jepang yang menjadi rekanan kami.

Maka otomatis saya buka code of conduct di jaringan intranet perusahaan dan mendapatkan guidance bahwa menerima gift seharga minimal AUD100.00 tidak diperbolehkan.  Saya chek ke nomer telepon toko yang ada di buku garansi, sebuah counter di Plaza Senayan. Defenetly nilai barang di atas yang diijinkan, bahkan valuable gift lebih rendah dari itupun mesti di-reportkan resmi. Pengecualian adalah promotion goods, itu loh barang2 yang ada cap/logo perusahaan, its ok. Salah satu kalimat yang saya inget dalam code of conduct tsb, “… a bottle of wine is ok, but a regular gift must be reported …”.

Tetapi saya juga mendapatkan informasi bahwa sangat tidak sopan mengembalikan gift dalam budaya Jepang. Jalan keluar harus dicari. Akhirnya saya menulis e-mail kepada management perusahaan Jepang tersebut dan cc ke head office kami, bahwa gift sudah saya terima dan akan kami tambahkan ke hadiah karyawan teladan yang sebentar lagi diselenggarakan.  Tahun itu karyawan dan karyawati teladan kami mendapatkan hadiah tambahan sebuah jam tangan yang cantik.

Sapu Bersih … tahun 2009

Sapu bersih ini bukan idiom semacam “sapu bersih medali emas” atau “sapu bersih musuh”. Ini maksudnya “sapu yang bersih”. Seperti kalau kita menyapu halaman rumah pakai sapu lidi, karena yang disapu adalah kotoran2 besar dan banyak di lokasi yang luas maka sapu lidi juga relatif harus kuat, cukup besar dan yang paling penting cukup bersih sebagai penyapu halaman. Jangan sampai sapu lidi kita isinya sangkutan plastik, bungkus rokok, dedaunan, udang busuk, gombal mukiyo dan lain-lain yang membuat sapu tadi terasa berat bahkan kotorannya malah menambah sampah di halaman.

Demikian pula kalau mau membersihkan lantai rumah, tentu saja harus pakai sapu yang relatif jauh lebih bersih dibanding tingkat kekotoran lantai. Tetapi sebersih apapun sapu yang paling bersih pastilah tidak masuk akal kalau digunakan untuk membersihkan meja makan apalagi kalau sampai untuk membersihkan piring.

Terlepas dari alat yang berbeda untuk tugas yang berbeda, demikian juga tingkat kebersihannya. Gak perlu pakai kain kasa steril seperti punya ruang bedah rumah sakit kalau hanya untuk membersihkan hidung dari ingus. Dan bayangkan juga betapa tidak efektifnya kalau sapu tangan bersih untuk soft lens kita gunakan sebagai lap piring. Ngoyoworo kata eyang saya almarhum.

Makanya di tahun 2009 ini kita mesti melihat, menilai dan pada akhirnya memilih siapa yang pantas menyandang tugas membersihkan Indonesia ini dari penyakit korupsi.

Jangan sampai gara-gara kita merasa tidak ada yang masuk “kriteria bersih bak malaikat yang kalis dosa”, maka kita memilih untuk tidak menyapu halaman.

Selamat memilih….

Ice Cream

Di suatu siang yang panas, secara tidak sengaja saya menemani seorang pengusaha untuk bertemu dengan pejabat tinggi di sebuah daerah. Sebenarnya yang harus mendampingi adalah kawan baik saya yang saat itu pesawatnya kena delay. Karena kebetulan saya sedang di situ dan punya waktu maka saya diminta mendampingi. Pengusaha tersebut hanya gak pede kalau nanti ditanya hal2 yang berbau teknis. Sebenarnya saya juga gak ngerti karena itu bukan bidang saya, hanya karena saya lulusan teknik maka dianggap “ngerti”. 

Singkat cerita saya di dalam situ akhirnya benar-benar jadi “reco penthung” karena memang gak ada pembicaraan teknis apapun. Briefing singkat dari teman via telpon sesaat sebelum dia masuk pesawat tidak terpakai sama sekali. Oh ya, sebenarnya ada teman lain di sebelah saya yang jauh lebih ngerti permasalan teknis di banding saya. Tapi intinya bukan di situ, jadi gak perlu dipermasalahkan. 

Yang ingin saya ceritakan adalah, pertemuan itu terinterupsi dengan datangnya anak pejabat tersebut.  Masih SMP kalau tidak salah. Si adik ini minta duit ke papa-nya untuk beli es krim buat ulang tahun temennya. Dia udah janji mau belikan sekilo (se-ember, kalau gak salah). 

Maka sang pengusaha yang baik hati ini langsung memotong pembicaraan Bapak-anak tersebut, “Udah, Om yang belikan”. Sepertinya sudah sangat biasa, dia langsung melihat ke kami berdua. Ya, maksudnya jelas: salah satu dari kami (saya tau teman saya) harus keluar ruangan untuk membelikan es krim buat anak pejabat yang telah janji memberi hadiah es krim untuk teman SMP-nya !

Dengan sedikit shock, saya menyadari saya-lah yang paling pantas pergi ke supermarket membeli es krim karena teman saya satunya khan lebih ngerti teknis, siapa tahu masih diperlukan. Tapi dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai manajer pabrik, saya berpikir keras menyelesaikan masalah ini tanpa saya merasa kehilangan harga diri menjadi “pembeli es krim”. Dengan profesional saya tanya apa merk yang diinginkan, rasa apa dan mesti diantar ke mana? 

Sepertinya saya bisa mengulur waktu, karena si adik SMP sebenarnya pengin beli sendiri (dan sepertinya si papa gak mau juga anaknya siang2 keluyuran di mall).  Maka ketika si adik sibuk nelpon temennya untuk konfirmasi merk apa, saya langsung telpon ke kantor si pengusaha dan minta staff untuk pergi ke mall dan membeli es krim branded kilo-an.  Karena jenis-nya masih ngegantung langsung saya putusin belikan 1 kilo coklat dan 1 kilo strawbery.  Si pengusaha menambahi, belikan semua jenis yang ada di mall masing2 se-kilo. Dan antar ke ….. (si adik nyebutin alamat rumah temannya). Done. Case closed. Semua happy, bapak pengusaha tidak lupa dengan berwibawa meminta anaknya mengucapkan terima kasih kepada si Om Pengusaha yang baik hati. Dan bagi saya, hari itu hanya nyaris jadi pembeli es krim. 

Malamnya, ketika melihat anak saya yang masih bayi tidur, saya cium keningnya sambil berbisik, “Le, kalau kamu sudah cukup besar untuk minta dibelikan es krim nanti, tolong jangan di depan orang banyak ya? Siapa tahu papi-mu ini juga gak cukup kuat untuk menolak pemberian orang kalau yang minta kamu. Mungkin saja itu cuma es krim, tapi nanti bisa jadi kulkas, komputer, helicopter remote. Kalau sudah biasa sejak kecil terima hadiah seperti itu, bisa jadi nanti minta ongkos liburan ke Hongkong, uang kuliah dan akhirnya minta jatah proyek bisnis”.  

Kalau sampai itu terjadi, rugi rasanya saya capek2 menghindar menjadi tukang beli es krim. 

Kisah nyata ini hanyalah selembar daun jatuh di rimba belantara. Mungkin saja tidak ada yang peduli, bahkan sangat mungkin orang2 yang ada di ruangan tersebut sudah lupa peristiwa tidak penting tersebut. Tetapi bagi saya, pembicaraan perihal es krim itulah yang paling serius dan paling nyaring dalam pertemuan tersebut. Bahkan gemanya masih terngiang jelas sampai sekarang.

Uang Masuk Angin

Isteri saya seorang PNS. Sebagai staff fungsional tentu saja jauh dari hiruk pikuk administrasi keuangan. Jadi tenang saja menerima gaji rutin setiap bulan.  Masalah timbul ketika pindah ke instansi lain dimana pimpinannya masuk kategori “baik hati”. Kenapa? Karena ternyata di kantor-nya PNS itu banyak sekali uang beredar yang gak jelas. Uang sisa proyek, atau dana disisakan didepan baru sisanya dibelanjakan dengan benar.  Pokoknya segala macam cara dilakukan agar terkumpul uang yang cukup besar untuk dibagi-bagi.

Celakanya segala insentif  resmi menjadi tidak jelas karena jumlahnya terlalu kecil sehingga tidak tercatat dengan baik. Kami yang sepakat sejak nikah hanya mau menerima gaji dan uang hasil keringat sendiri tentu bingung bagaimana menyikapinya. Maka kami putuskan, kalau memang uang pembagian itu tidak bisa ditelusuri berapa jumlah pasti yang dari insentif resmi maka tolak semua.

Tentu saja gak semudah itu urusannya. Pimpinan tidak bisa menerima kalau ada anak buah yang “tidak menjaga kebersamaan”.  Maka yang terjadi adalah paksaan, rayuan, sindiran, pengucilan de el el. Isteri saya bergeming tetap tidak mau menerima dan menandatangani kuitansi. Bahkan saran te o pe be ge te muncul, “Bu, tolong terima dan tanda tangani kuitansinya. Setelah ini terserah ibu sumbangkan ke masjid, panti asuhan atau kemana saja sesuka Ibu. Dengan demikian ibu sudah menjaga perasaan sesama teman dan sekaligus beramal” ….

Lha bagaimana bisa dibilang beramal, kalau itu kami yakin bukan hak kami? Yang jelas isteri saya akhirnya menjadi satu-satunya yang tidak dapat “insentif” tahun itu.  Yang cukup meringankan hati adalah ternyata beberapa teman isteri juga menganggap tindakan isteri saya benar, dan mereka juga berharap insentif bisa dihitung dengan benar sesuai hasil kerja nyata.  Tetapi bagaimanapun mereka mungkin sangat memerlukan uang itu. Uang yang besarnya cukup lumayan dan kalau di instansi lain ternyata tidak sebesar itu karena pimpinannya “tidak baik hati”. 

Ya, harus saya akuin bahwa dia “baik hati” karena sudah menjadi rahasia umum kalau pimpinan sudah ambil bagian terbanyak lebih dahulu dan baru dibagikan atau bahkan tidak ada yang ke anak buah sama sekali, seperti pimpinan isteri saya terdahulu. Wallahualam.

Tahun kedua, kejadian berulang lagi. Saya sempat marah ke isteri karena kenapa dia tidak antisipasi dengan menghitung dan mencatat dengan benar berapa kali dia dinas keluar dll. “Ya sudahlah, berarti tahun ini juga gak dapat tambahan insentif lagi”, demikian pikir kami.

Beberapa minggu kemudian isteri saya sakit. Masuk angin. Dan dengan rasa bersalah dia ngomong ke saya kalau gak kuat disindir2 dan dimusuhin sehingga dia mau menerima “uang bagi-bagi” itu. Dia ambil sebagian sesuai dengan catatan kerja yang dia buat sendiri (kecil sekali memang, karena khan hanya berdasarkan ingatan dia), dan sisanya (sebagian besar) dia belikan taplak meja, korden, kipas angin dll untuk keperluan ruangan kantor dia. 

“Itu namanya masuk angin korupsi”, kata saya. Kami menyerah saat itu dengan tidak mengembalikan uang yang telah dibelanjakan. “Toh itu juga digunakan untuk kantor”, demikian pembelaan kami. Gak tahulan, itu benar atau salah, yang jelas ketika isteri saya pindah ruangan, barang2 tersebut tidak dibawa pindah. Dan sampai sekarang isteri saya rajin mencatat semua aktifitas dia, sehingga setiap pembagian “uang masuk angin” dia hanya mengambil sesuai dengan hasil kerja dia dan mengembalikan sisanya ke kas kantor. Tiga pimpinan sudah berganti, ada yang appreciate ada yang tetap menyindir (gak mau maksa lagi, capek kali). 

Jadi kalau sekarang setelah waktu “bagi-bagi duit” dan isteri saya “masuk angin”, berarti catatannya kurang rapi. Memang susah jadi PNS.

Terlalu Lurus

Suatu sore saya mengantar seorang teman ke rumah seorang Direktur Operasi sebuah perusahaan EPC yang baru saja go-public, untuk membicarakan sebuah bisnis. Setelah pembicaraan bisnis selesai, kami masih ngobrol hal2 ringan lainnya. Dan dia (pak Direktur) ngomongin teman saya lainnya yang kebetulan menjadi anak buah dia, tepatnya sebagai Manajer Pembelian.

“nDra, temanmu satu itu mbok dinasehati. Jangan terlalu lurus, mosok sama sopir aja handphone-nya kalah. Saya gak keberatan-lah dia dapet satu atau 3 persen dari supplier. Asalkan gak njatah (minta, maksudnya) saya tutup mata. Saya ikut repot kalau gini terus. “

Terus terang saat itu saya kaget setengah mati dan hanya njawab, “Iya pak, nanti dia tak kasih tahu”.  Speechless. Teman satu ini memang terkenal lurus hidupnya. Sebagai Manajer Pembelian, dia saat itu hanya punya rumah kontrakan (di daerah banjir lagi)  dan ke kantor naik sepeda motor.  Tetapi apakah ada istilah “terlalu lurus”? Kalau terlalu kurus atau terlalu gemuk bolehlah. Atau terlalu bengkok masih bisa diterima, tetapi kalau “terlalu lurus” nah yang “lurus” itu seperti apa?

Memang teman ini beberapa kali mengeluh bahwa di perusahaan tempat dia kerja sangat tidak kondusif untuk berbuat jujur. Mark up dan dapat kick back dari supplier seolah2 memang dianjurkan. Gaji resmi kecil untuk ukuran skala perusahaan tersebut. Makanya dia punya banyak “musuh”, dan hanya owner yang masih percaya dia (makanya sampai jadi Manajer Pembelian). Tapi sayangnya owner sendiri sepertinya juga tidak begitu peduli dengan “kelurusan” dia.

Alhamdulillah setelah bertahun-tahun bertahan di perusahaan itu (padahal saya kadang sampai capek juga nyuruh dia pindah kerja ke perusahaan yang lebih toleran kepada kejujuran), akhirnya dia pindah kerja juga. Perusahaan yang sekarang memberi gaji yang berlipat-lipat dan saya yakin dia akan segera bisa beli rumah (di daerah bebas banjir) dengan tetap menjaga pola kerja yang terlalu lurus.  Amin.

Nomer Account ….

“Berapa nomer account bank Bapak?”, demikian salah satu pertanyaan dari seseorang (sebut saja pak Alex) di telepon pada suatu siang beberapa tahun lalu.

Pak Alex adalah owner sebuah perusahaan EPC. Kebetulan perusahaan tempat saya kerja meminta jasa kontraktor untuk membuat sebuah storage product kami di site pelanggan. Secara teknis kami menyerahkan sepenuhnya design engineering, project control dan commissioning, dan kami hanya akan menegosiasikan nilai kontraknya. Storage tersebut memang fully akan didanai oleh perusahaan kami sebagai bagian dari service kepada pelanggan. 

Karena satu dan lain hal, semua nego saya dengan pak Alex dilakukan tanpa bertatap muka, hanya via telepon dan e-mail.  Singkat cerita, project telah selesai dan pembayaran terakhir telah terlaksana. Saat itulah pak Alex menelpon saya dan mengucapkan terima kasih atas final payment. Kemudian dia juga menyebut sejumlah uang yang akan ditransfer untuk saya sebagai ucapan terima kasih. Maka sambil mengucapkan terima kasih kembali saya janji akan mengirimkan nomer account bank.

Tak lama berselang dia menelpon kembali.

Pak Alex: Ma’af pak Indra, menurut staff saya, nomer yang Bapak infokan itu account perusahaan. 

Saya: Ya benar, silakan transfer ke nomer tersebut.

Pak Alex: Lho, Bapak ini owner-nya ya? Waduh, ma’af pak saya telah lancang.

Saya: Bukan kok pak, saya pegawai perusahaan. Uang itu akan kami post-kan sebagai discount. Saya melarang diri saya dan anak buah saya menerima pemberian dari rekanan. 

Pak Alex: Wah jarang lho pak saya ketemu dengan orang yang gak mau duit. Bla bla bla ….

Lho memang siapa yang gak mau duit? Saya mau kok terima gaji karena memang saya telah bekerja untuk penghasilan itu. Project tersebut adalah bagian dari pekerjaan saya, jadi saya telah dibayar cukup untuk melakukan pekerjaan tersebut. Rasa terima kasih rekanan mestinya ditunjukkan dengan hasil kerja yang memuaskan dan harga yang kompetitif tentu saja. Bukan dengan memberikan “duit terima kasih”. 

Banyak orang merasa bahwa menerima “duit terima kasih” adalah sah-sah saja. Itu urusan mereka. Tetapi jauh sebelum perkara korupsi menjadi komoditi politik seperti sekarang, saya sudah diwanti-wanti oleh orang tua saya untuk bekerja dengan benar. Salah satu-nya adalah tidak menerima imbalan yang bukan hak kita.

Hello world!

Selamat datang.

Ini hanya catatan biasa seperti daun-daun yang jatuh setiap saat …

Cheers,

Indra Depe

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.