Suatu sore saya mengantar seorang teman ke rumah seorang Direktur Operasi sebuah perusahaan EPC yang baru saja go-public, untuk membicarakan sebuah bisnis. Setelah pembicaraan bisnis selesai, kami masih ngobrol hal2 ringan lainnya. Dan dia (pak Direktur) ngomongin teman saya lainnya yang kebetulan menjadi anak buah dia, tepatnya sebagai Manajer Pembelian.
“nDra, temanmu satu itu mbok dinasehati. Jangan terlalu lurus, mosok sama sopir aja handphone-nya kalah. Saya gak keberatan-lah dia dapet satu atau 3 persen dari supplier. Asalkan gak njatah (minta, maksudnya) saya tutup mata. Saya ikut repot kalau gini terus. “
Terus terang saat itu saya kaget setengah mati dan hanya njawab, “Iya pak, nanti dia tak kasih tahu”. Speechless. Teman satu ini memang terkenal lurus hidupnya. Sebagai Manajer Pembelian, dia saat itu hanya punya rumah kontrakan (di daerah banjir lagi) dan ke kantor naik sepeda motor. Tetapi apakah ada istilah “terlalu lurus”? Kalau terlalu kurus atau terlalu gemuk bolehlah. Atau terlalu bengkok masih bisa diterima, tetapi kalau “terlalu lurus” nah yang “lurus” itu seperti apa?
Memang teman ini beberapa kali mengeluh bahwa di perusahaan tempat dia kerja sangat tidak kondusif untuk berbuat jujur. Mark up dan dapat kick back dari supplier seolah2 memang dianjurkan. Gaji resmi kecil untuk ukuran skala perusahaan tersebut. Makanya dia punya banyak “musuh”, dan hanya owner yang masih percaya dia (makanya sampai jadi Manajer Pembelian). Tapi sayangnya owner sendiri sepertinya juga tidak begitu peduli dengan “kelurusan” dia.
Alhamdulillah setelah bertahun-tahun bertahan di perusahaan itu (padahal saya kadang sampai capek juga nyuruh dia pindah kerja ke perusahaan yang lebih toleran kepada kejujuran), akhirnya dia pindah kerja juga. Perusahaan yang sekarang memberi gaji yang berlipat-lipat dan saya yakin dia akan segera bisa beli rumah (di daerah bebas banjir) dengan tetap menjaga pola kerja yang terlalu lurus. Amin.